Menerima Kematian Orang Terkasih

Halo my fren...
Salam asah asih asuh,  ayom ayem, damai Semesta.

Hari ini pas banget selesai takziyah almarhum pakde,  kakak deketnya bapakku... Mampir dong aku ke makam ibu, secara satu trah dari bapak dimakamkan disana. Dari situ aku kepikiran buat share pengalaman nih. Menerima kematian orang terkasih.

Jadi gini,  lepas dari kala itu yang satu persatu keluarga menghibur dengan kata -  kata bijak,  hadist dan ayat. Petikan filsafat. Semua deh. Semua untai kata yang logis diutarakan untuk keluarga yang sedang berduka. Aku pribadi tidak atau belum bisa mencernanya satu persatu sebab jiwa raga masih mengalami konsleting momentum. Entah gimana mendeskripsikan rasa keterputusan sesaat itu. Mungkin seperti kesetrum arus listrik lalu mati rasa untuk sementara waktu. Dan itulah yang kurasakan. Aku mati rasa.

© 2018 | endah pamulatsih 


Hingga setahun lebih rasa mati rasa itu seakan masih ada. Diantara waktu yang berjalan itu,  rasa -  rasa hidup seperti hambar aja. Mungkin ini juga penyebab kenapa sampai beberapa waktu aura sebuah rumah duka pasti terasa seperti abu-abu.

Kemelekatan. Memori / kenangan. Ini bagus buat jembatan kita mendoakan,  tapi kadang juga ini menjadi candu kita untuk berlarut-larut hanyut dalam duka. Momen demi momen akan menggerusnya perlahan walaupun kadang di satu waktu pasti kenangan itu muncul lagi dan yang bisa kita lakukan hanyalah mendoakan mereka dan mendoakan diri kita sendiri untuk terus menjalani hidup dengan selamat.

Ada juga yang mengalami efek lanjutan dari kedukaan itu sehingga mengalami spiritual awakening. Dimana ujian hidup semakin kenceng dateng. Satu hal yang pasti tetap berpositif thinking dengan takdir Tuhan,  mekanisme alam semesta. Dan Tuhan tidak akan mengetok pintu seorang hambanya kalau dia tidak atau belum akan dipersilakannya untuk masuk ke ruang selanjutnya/fase hidup/pendewasaan. Bisa dibaca  lanjutannya di topik gejala awakening di blog ini.

Babak awal dari pemahaman ini adalah kita jadi tahu batas. Kapan kita gaspoll dalam menjalani kehidupan kapan finishline dan kita harus istirahat.  Tahu sebab-akibat dalam kehidupan, perluasan dan perdalaman pemahaman dalam memahami cara dan sudut pandang dalam kehidupan. Bahkan dari kematian kita belajar tentang kehidupan.

So,  berikut tips dari aku untuk tidak berlarut -  larut dalam kemelekatan dengan orang terkasih yang sudah meninggal.

  1. Setelah upacara dan prosesi lain (*mungkin sembahyangan,  mungkin tahlilan,  kendurian,  perabuan dll selesai. Segera istirahatkan badan dan pikiran)  grounding,  mengatur nafas,  banyak minum air putih,  buka cakrawala pikiran.
  2. Minggu selanjutnya kalau masih ada upacara ya bisa sesekali senggang kamu olah raga. Apapun itu tapi jangan yang terlalu melelahkan. Misalnya jogging,  yoga,  senam atau sekedar pemanasan ringan di halaman rumah. Tidak lupa banyak minum air putih dan tiup lah dengan afirmasi / sugesti bahwa kamu dan keluarga harus melanjutkan hidup,  bukan melupakan yang terkasih tapi untuk menerima situasi itu. 
  3. Sesekali pasti ada orang yang baru datang di bulan bulan berikutnya,  menanyakannya,  dan kamu kebuka lagi memorinya. Maka terima saja momen itu tapi sekali lagi ketika kamu mulai tertrigger untuk merasa sedih atau iba dengan dirimu dan kenyataan. Maka berhentilah. Kembali buka dan perluas cakrawala pikiran. Pikirkan ide -  ide kreatif,  pekerjaan, karya, dan lain sebagainya. Dan ulangi hal ini manakala kamu mendeteksi rasa-rasa itu. 
  4. Jika sudah berjalan sekian tahun. Sesekali kamu bermimpi dikunjungi beliau. Jangan takut ya,  sekali lagi, jangan takut. Nanti aku tulis bab khusus tentang mimpi bertemu dengan orang yang sudah meninggal. 
  5. Banyak mendekatkan diri pada Tuhan dan alam semesta bagi kamu yang taat dalam jalan religi.
  6. Banyak berserah dan mengosongkan pikiran buat kamu yang sedikit-sedikit memahami tasawwuf dan jalan spiritual. Baik yang murni maupun yang campur religi. Semua ujungnya sama. Hidup dengan selamat,  dunia akhirat. 
Oke,  sekiranya cukup ini dulu tips buat menumbuhkan rasa hidup lagi. Bagai mana menerima kematian orang terkasih versi aku. Semoga bisa jadi perluasan cakrawala bagi yang membutuhkannya. 

Salam asah asih asuh,  ayom ayem, tetap belajar,  tetap bekerja,  tetap semangat, damai Semesta, maturnuwun, namaste. 



Komentar